Gunung Anak Krakatau saat ini masih berada pada Status Level III atau Siaga.Dok. PVMBG Badan Geologi, Kementerian ESDM)
Gunung Anak Krakatau saat ini masih berada pada Status Level III atau Siaga.Dok. PVMBG Badan Geologi, Kementerian ESDM)

Erupsi Gunung Anak Krakatau Disertai Dentuman, Radius 3 Km Dilarang Didekati

Annisa ayu artanti • 05 September 2026 08:53
Ringkasnya gini..
  • Gunung Anak Krakatau masih erupsi pada 5 September 2026 disertai suara dentuman dan gemuruh.
  • PVMBG menyebut kondisi tubuh Gunung Anak Krakatau saat ini belum berpotensi memicu tsunami.
  • Gunung Anak Krakatau berstatus Level III Siaga dan kawasan radius 3 km dari kawah aktif dilarang didekati.
Jakarta: Gunung Anak Krakatau di Kabupaten Lampung Selatan, Lampung, masih mengalami erupsi hingga Sabtu pagi, 5 September 2026. Aktivitas erupsi yang berlangsung sejak Jumat malam disertai suara dentuman dan gemuruh yang terdengar dari Pos Pengamatan Gunungapi Anak Krakatau di Pasauran.

Kondisi tersebut membuat masyarakat, terutama yang berada di pesisir Banten dan Lampung, kembali khawatir terhadap kemungkinan tsunami. Namun, pemerintah mengimbau masyarakat tetap tenang dan tidak panik, sembari meningkatkan kewaspadaan dan mengikuti informasi resmi.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menyatakan pertumbuhan tubuh Gunung Anak Krakatau yang terbentuk kembali setelah erupsi 22 Desember 2018 masih relatif kecil. Berdasarkan evaluasi hingga saat ini, kondisi tersebut tidak berpotensi mengalami keruntuhan dalam skala yang dapat memicu tsunami.

Meski demikian, pemantauan terhadap aktivitas dan perubahan morfologi gunungapi tetap dilakukan secara intensif.

Gunung Anak Krakatau Masih Erupsi hingga Sabtu Pagi

Mengutip keterangan tertulis, Sabtu, 5 September 2026, erupsi menerus Gunung Anak Krakatau dimulai pada Jumat, 4 September 2026, pukul 23.07 WIB dan masih berlangsung hingga Sabtu pagi.

Dalam laporan aktivitas periode pengamatan pukul 00.00–06.00 WIB, aktivitas erupsi secara visual diinterpretasikan sebagai fenomena lava fountain atau lava air mancur yang terlihat pada malam hari. Gunungapi terpantau jelas hingga tertutup kabut dengan tingkat kabut 0–III. Sementara itu, asap kawah tidak teramati.

Dari sisi kegempaan, tercatat satu kejadian letusan dengan amplitudo 70 milimeter dan durasi yang tercatat dalam laporan selama 21.600 detik.

Apakah Erupsi Anak Krakatau Berpotensi Picu Tsunami?

Kekhawatiran soal tsunami kembali muncul karena masyarakat masih mengingat peristiwa tsunami pada 22 Desember 2018 yang berkaitan dengan aktivitas Gunung Anak Krakatau.

Namun, berdasarkan evaluasi PVMBG hingga saat ini, pertumbuhan tubuh Gunung Anak Krakatau pascaerupsi 2018 masih relatif kecil dan tidak berpotensi mengalami keruntuhan dalam skala yang dapat memicu tsunami. Karena itu, masyarakat pesisir Banten dan Lampung diminta tidak panik hanya karena mendengar dentuman atau melihat aktivitas erupsi secara visual.

Meski demikian, kondisi Gunung Anak Krakatau tetap dipantau secara intensif. Masyarakat juga diminta tidak membuat kesimpulan sendiri mengenai potensi bahaya berdasarkan suara dentuman atau aktivitas visual gunungapi.

Gunung Anak Krakatau Berstatus Siaga

Saat ini, Gunung Anak Krakatau berada pada Level III atau Siaga. PVMBG melalui Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) merekomendasikan masyarakat, pengunjung, wisatawan, maupun pendaki untuk tidak mendekati Gunung Anak Krakatau. Aktivitas juga dilarang dilakukan dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif.

Larangan tersebut penting karena erupsi masih berlangsung dan terdapat potensi lontaran material vulkanik dari kawah aktif. Masyarakat juga diminta tidak mendekati kawasan gunungapi hanya untuk menyaksikan langsung erupsi atau mengambil foto dan video.



Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(ANN)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

>